Tentang Dugem, Persepsi Negatif, dan Feby Febiola
Personal, Blogs May 5th, 2008…setiap penyanyi memang tampil dengan gayanya masing masing..ada yang ngerock, ada yang pop, ada yang pake gitar, ada yang slow. kenapa? itulah karakter mereka..dan setiap talenta yang kita miliki adalah anugerah dari Tuhan, dan kita gunakan untuk kemuliaan Tuhan. saya kurang setuju kalau dibilang dugem a la kristen..karena tujuannya orang dugem berbeda dengan tujuan orang datang ke konser BW… (Feby melalui comment)
Demikian comment pertama yang saya terima dari post saya tentang Konser Feby Febiola yang lalu. Entah ini dari Feby Febiola-nya (*terharu mode ON) atau dari pihak panitia yang kebetulan bernama Feby (masih menunggu konfirmasi).
Pertama saya minta maaf apabila terdapat salah paham tentang penggunaan kata “dugem” di entry saya tersebut. Bukan maksud saya menjelek-jelekkan Konser Beautiful Worship-nya Feby.
Saya bukanlah seorang yang biasanya menghadiri konser-konser rohani. Saya bukanlah seorang yang biasanya tergerak oleh hal-hal rohani. Boleh tanya orang tua saya, Cen, atau boleh tanya temen baik saya Irene (dia neh yang paling sering menasehatin saya tentang hal-hal rohani, ya ga nyonk?). Bukannya saya tidak percaya Tuhan, namun saya juga bukanlah tipe yang terlalu antusias. Ini saya akui.
Namun ada beberapa hal yang telah merubah saya. Antara lain, perjalanan ke Jerusalem, Pos PI, dan konser-konser rohani (selama ini saya baru datang 2x, salah satunya ya konsernya si Feby).
Lalu mengapa saya menyebut konsernya Feby sebagai dugem ala Kristen? Karena tidak seperti masyarakat Indonesia pada umumnya, dugem, bagi saya, tidak berarti jelek. Memang, di Indonesia dugem adalah bersifat sangat negatif. Dugem kerap dikaitkan dengan narkoba, free-sex, dan hal-hal jelek lainnya. Namun tidak untuk semua orang.
Dulu ketika saya sedang menempuh pendidikan di Perth, Australia, yang namanya dugem itu biasa. Weekend saya pergi dugem bareng teman-teman saya. Apakah kami nge-drug? Tidak. Apakah kami free-sex? Kenalan aja udah gugup! (hehehe..) Lalu ngapain dunk? Saya beserta teman-teman kesana untuk.. well, the music! Makanya kalau pergi dugem, selalu nanya, mo pergi yang mana? RnB? Trance? atau Jazz? karena memang begitulah adanya, kami pergi untuk mendengar dan menikmati musik, bersosialisasi, dan minum sosial (social drinker). Makanya dugem, bagi saya, bukanlah sesuatu yang pasti bersifat negatif. Ini adalah relatif. Dugem itu sendiri adalah singkatan dari Dunia Gemerlap bukan? bukan Dunia Narkoba 
Inilah yang saya rasakan ketika menghadiri konser Beautiful Worship-nya Feby Febiola. Seperti saya bilang, saya bukan tipe yang antusias. Makanya konser kemaren adalah baru. Sebelumnya saya belum pernah melihat Feby (maaf Feb, saya pangling ketika meliat kamu), atau Adon (Base Jam? siapa tuh? saya diketawain QQ.. hahaha). Namun konser tadi malam begitu meng-inspirasi sampai saya langsung nge-blog pas pulang. Saya menyanyi, memuji Tuhan, dan sekaligus menapakkan kaki saya sesuai alunan musik-musik yang dialunkan. Well, saya sangat menikmati konser tersebut, dan mengingatkan saya ketika masa-masa fun saya dugem di Australia.
Karena itulah saya menggunakan istilah “dugem ala Kristen”, bukan dalam arti yang negatif, namun lebih ke sisi yang positif.
Saya harap ini menjelaskan dan meng-clear kesalah pahaman yang ada.
God bless.
May 5th, 2008 at 12:59 pm
hohohoho
persepsi yang berbeda membuat orang bisa salah paham..
yang penting dah diklarifikasi… toh loe tidak bermaksud tuk menyinggung sapapun, kan? 
May 5th, 2008 at 5:15 pm
Justru nda Fun. Gw justru sebenernya memuji banget konsernya. Tapi yah gitu, ada perbedaan persepsi kata “dugem” hehehe